PatungDewi Avalokitesvara memiliki tinggi 22,8 m yang berada di Vihara Avalokitesvara. Tepatnya di pusat kota Pematang Siantar yakni Jalan Siposo-poso. Dari nama vihara ini juga merupakan sebutan dari Dewi Kwan Im yang artinya ialah mendengar suara dunia. Patung Dewi Avalokitesvara diimpor langsung dari China yang juga sudah dibangun selama Buddha statue in the Wat Bowonniwet Vihara in Bangkok, Thailand. A vihara usually refers to a Buddhist monastery that is inhabited by Buddhist monks. However, the term can have different meanings. For instance, in other religious texts, such as Hindu, Ajivika, and Jain, a vihara refers to a temporary dwelling place for wandering monks seeking refuge or rest during the rainy season. Additionally, in Pali and Sanskrit, a vihara is a place for leisure and entertainment, while in Indian architecture viharas refer to central halls fitted with tiny cells that contain small beds carved from stone. Viharas are commonly found in Thailand because Buddhism is the country's predominant religion. Origin of Viharas During the reign of the Indian emperor Ashoka in the 3rd century BCE, "vihara yatras" were leisurely travels based around pleasure or hobbies, including hunting. However, after Ashoka converted to Buddhism, vihara yatras were replaced with "dharma yatras" that focused on religious purposes or pilgrames. Viharas were typically caves and involved cutting into the rock. They typically consisted of large halls and a series of small cells that contained a bed and pillow carved from stone. Viharas also usually contained monuments and symbols of Buddhist worship. Significance of Viharas The most significant part of a vihara is the shrine room, which is used for worship. Inside the shrine room, monks practice spiritual rituals to honor Buddha, and can give offerings such as flowers, water, incense, and candles. Most viharas also feature a hall for the ordination ceremony of new monks. In addition to serving as a religious place of worship, monks also use viharas as a place for study and learning. In fact, some viharas served as important Buddhist universities during the medieval era. Practice of Meditation in Viharas Buddhist monks observe two types of meditation mindful and Metta reflections. The former practice is highly emphasized and entails devoting all of one’s thoughts in worship, whereas Metta meditation involves monks expressing love and kindness to one another. Buddhists typically practice meditation in a meditation hall. Home Society What Is A Vihara?
ViharaAvalokitesvara Siantar Tutup Pada Malam Tahun Baru Imlek, Ini Alasannya. TRIBUN-MEDAN.COM, SIANTAR - Jelang Perayaan Imlek 2573 Tahun 2022, sejumlah rumah ibadah umat Budha di Siantar dibuka untuk kegiatan ibadah. Namun dilakukan pembatasan kunjungan, seperti yang terjadi di Vihara Avalokitesvara, Jalan Gunung Pusuk Buhut, Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Selatan.
Skip to content Paket WisataRental MobilSewa Bus PariwisataSewa MotorKontakTravel Blog Vihara Avalokitesvara Saat sedang berlibur di Sumatera Utara, tak ada salahnya jika Anda juga mengunjungi vihara terbesar se-Asia Tenggara. Vihara Avalokitesvara adalah nama destinasi wisata ini. Tempat persembahyangan bagi umat Buddha ini sangat terkenal sebagai obyek wisata religi. Pasalnya, Anda akan menemukan sebuah Patung Dewi Kwan Im raksasa yang berdiri menjulang tinggi dengan megah. Situs wisata yang terletak di Pematangsiantar ini sangat penting bagi masyarakat Tionghoa. Nah berikut beberapa penjelasan mengapa wisata bersejarah ini selalu ramai pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Sekilas Tentang Vihara Avalokitesvara Vihara Avalokitesvara Medan adalah salah satu vihara populer di kalangan umat beragama Budha dan Konghucu. Tempat persembahyangan ini memiliki sejarah dan peran penting bagi orang-orang Tionghoa, terutama mereka yang tinggal di Pematangsiantar – Sumut. Adanya Patung Dewi Kwan Im yang berdiri adalah ikon dari wisata ini. Bahkan para pelancong dari luar negeri juga berdatangan untuk menyaksikan keindahan vihara dan kemegahan patung dewi tersebut. Masyarakat lokal biasa menyebut patung tersebut dengan julukan Dewi Welas Asih. Sebenarnya, beberapa wilayah di Indonesia juga memiliki vihara bernama sama. Hanya saja, vihara yang berada di Siantar ini adalah vihara yang paling besar. Bangunan ini padat dengan patung-patung kepercayaan umat Buddha yang kabarnya memberikan keselamatan. Selain menyandang sebagai vihara terbesar di Asia Tenggara, patung Dewi Welas Asih pernah lolos dalam daftar rekor Muri sebagai Patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia. Sayangnya, rekor tersebut bertahan lama dan jatuh ke situs religi lain yakni Patung Yesus Bukit Sibea-Bea. Daya Tarik Vihara Avalokitesvara Tak hanya patung Dewi Kwan Im saja yang terkenal dan menarik, masih ada hal lain yang bisa Anda nikmati saat datang ke sini. Terlebih pemandangan wisata ini juga indah. Berikut kami sajikan daya tariknya di bawah ini. Pesona Patung Dewi Kwan Im Sudah tak perlu Anda ragukan lagi keindahan Patung Dewi Kwan Im. Tingginya dari dasar hingga puncak sekitar 22,8 meter. Warnanya kelabu karena merupakan warna asli batu granit yang menyusun patung ini. Batu granit sebagai bahan pembuat patung ini berasal dari Negeri China. Berat patung ini sekitar ton. Kesan pertama melihat patung yaitu terlihat klasik dan kuno seperti patung yang sudah ada sejak lama. Padahal pembuatannya baru saja pada tahun 2015 silam. Selain patung raksasa ini, destinasi wisata Sumatera Utara Medan ini juga menyimpan patung 12 Shio yang mengelilingi patung Dewi indah ini. Menurut kepercayaan, patung 12 Shio tersebut berperan sebagai penjaga dari patung dewi. Menikmati Pemandangan Alam Tak hanya menyejukkan jiwa dan batin melalui aktivitas ibadah, Anda bisa menikmati keindahan alam yang kuil ini pamerkan. Suasana asri dan sejuk masih terjaga karena pesona alamnya masih terjaga. Terdapat taman hijau menghiasi kanan kiri jalan setapak menuju bangunan utama. Ada pula sungai buatan kecil di mana tengahnya terdapat jembatan. Anda bisa bersantai sambil mendengar percikan aliran sungai dan hijaunya alam sekitar. Banyak Spot Foto Instagramable Tak ada salahnya bila Anda ingin berfoto di tempat ibadah umat Tiongkok ini asalkan tidak mengganggu orang yang sedang beribadah. Meski area ibadah, vihara ini menyajikan beragam spot foto Instagramable secara gratis. Sudah menjadi hal wajib bagi pengunjung untuk berfoto bersama Patung Dewi Welas Asih. Anda juga bisa mengambil gambar dengan patung-patung lainnya yang memiliki bentuk beraneka ragam. Terlebih beberapa ornamen hiasan dari vihara sangat cantik. Supaya foto semakin estetik, Anda bisa berfoto di taman. Foto tersebut semakin bagus jika view paduan langit biru dan awan putih menjadi latar belakangnya. Beberapa area vihara juga menawarkan spot yang indah. Seperti berfoto dengan pose berdiri di anak tangga yang terletak di dekat pintu masuk. Berfoto dengan gedung utama vihara dimana Anda berdiri di tengah-tengah juga bisa menjadi ide foto terbaik. Keindahan Bangunan Vihara Kompleks vihara ini sangat besar sehingga tempat peribadatan terbagi menjadi empat ruangan. Bagian ruangan tersebut antara lain Bhavana Sabha, Kuthi, Dhammasala, dan Uposathagara. Pagar yang mengelilingi vihara ini bentuknya seperti benteng pertahanan perang zaman dahulu. Dindingnya sangat tebal dan menjulang tinggi dengan kokoh. Catnya putih bersih dan bisa menjadi inspirasi sebagai spot foto minimalis. Ada juga lonceng dan roda doa yang turut menghiasi vihara ini. Desain vihara ini sangat cantik. Terlebih ornamen-ornamen pada bangunan atap segitiga melengkung tampak sangat bagus. Fasilitas di Vihara Avalokitesvara Destinasi wisata favorit penganut Konghucu sudah menyediakan berbagai fasilitas lengkap. Fasilitas ada karena pihak pengelola ingin menyambut tak hanya umat yang ingin bersembahyang saja. Melainkan juga mereka para wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan dari vihara ini. Karena memang tempat ini bukan sekedar tempat sembahyang saja, namun juga sebagai obyek wisata. Pastinya bangunan klenteng dan kuil sebagai area ibadah tersedia bersih dan lengkap. Terdapat toilet umum dan beberapa tong sampah di sudut lokasi. Area parkirnya juga sangat luas, mengingat vihara ini sangat besar lahannya. Transportasi seperti motor, mobil, dan bus pariwisata bisa parkir di sini. Terdapat pula resort yang bisa Anda manfaatkan juga fasilitasnya. Seperti fasilitas tempat kuliner di Medan yang terkenal di salah satu restaurant di resort. Apabila ingin staycation, ada tempat penginapan bertarif murah hingga penginapan bertarif mahal. Harga Tiket Masuk Vihara Avalokitesvara Obyek wisata religi ini tidak terbatas untuk masyarakat Tionghoa atau umat Buddha saja. Pengunjung umum bebas memasuki kawasan ini dengan catatan menghormati mereka yang sedang beribadah dan tidak merusak properti di area ini. Sama halnya dengan tempat ibadah pada umumnya, pengelola wisata ini tidak menarik biaya tiket masuk. Artinya Anda bisa mengunjungi vihara ini tanpa membayar tiket masuk Vihara Avalokitesvara. Pastinya ini menjadi kabar baik bagi wisatawan yang ingin mendatangi vihara tapi terkendala oleh biaya. Rute Menuju Lokasi Vihara Avalokitesvara Lokasi Vihara Avalokitesvara ini dapat Anda temukan di Jalan Pusuk Buhit, Karo, Siantar Sel, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Lokasinya memang sangat strategis karena berada di pusat Kota Pematangsiantar sehingga Anda bisa menjangkaunya dengan berbagai mode transportasi. Bila berangkat dari Medan menggunakan rental mobil Avanza Medan murah, lama waktu perjalanannya sekitar 2-3 jam. Tapi tenang saja, tim driver dari Salsa Wisata siap mengendarai kendaraan dengan profesioanal sehingga Anda akan merasa nyaman. Bagi yang ingin memanfaatkan transportasi kereta, Anda bisa menaiki kereta api Siantar Express menuju Stasiun Pematang Siantar. Dari stasiun, Anda bisa memesan ojek online untuk menuju destinasi wisata ini. Supaya tidak bosan selama menempuh perjalanan, ada baiknya Anda membawa cemilan seperti Martabak Piring, Bolu Meranti, dan makanan khas Medan lainnya. Jam Operasional Vihara Avalokitesvara Jadwal operasional Vihara Avalokitesvara ini buka setiap harinya dari hari Senin sampai hari Minggu. Anda bisa memasuki area wisata ini mulai jam WIB sampai jam WIB. Tetapi waktu operasional tersebut bisa berubah saat ada acara peribadatan seperti merayakan hari raya Imlek atau Waisak. Bagi wisatawan yang sudah jauh-jauh hari sudah menyiapkan budget untuk segala jenis keperluan liburan di Pematangsiantar ini, Anda bisa mengalokasikan sebagian untuk membeli oleh-oleh di toko oleh-oleh khas Medan. Anda lalu dapat membagi oleh-oleh tersebut kepada kerabat, tetangga, atau teman di rumah. Supaya perjalanan semakin lancar selama liburan di salah satu kota wisata di Sumut ini, pertimbangkan untuk memanfaatkan jasa sebuah travel organizer terbaik dan profesional. Salsa Wisata, dengan pengalaman profesional dalam mewujudkan impian lebih dari wisatawan dan lebih dari 100 cabang pelayanan di seluruh Indonesia, tentu bisa jadi rekomendasi terbaik. Liburan Anda jauh-jauh ke Medan akan semakin puas dengan dukungan jasa paket liburan keluarga murah meriah ke Medan dan sekitarnya dari Salsa Wisata. Beragam paket wisata telah tersedia; Anda pilih yang sesuai dengan kebutuhan. Paket wisata Medan 1 hari adalah yang terlaris saat ini. Nikmati momen liburan terbaik Anda bersama keluarga di Vihara Avalokitesvara Siantar dan destinasi wisata Pemantangsiantar lainnya dengan fasilitas terlengkap, harga terjangkau, dan service terbaik bersama Salsa Wisata. Related PostsBagikan Artikel Ini Ke Page load link
Vihara Avaloketesvara di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, merupakan Vihara tertua di Banten. Bahkan kini termasuk tempat ibadah tertua yang ada di Pulau Jawa. Peneliti budaya dari Bantenologi Yadi Ahyadi mengatakan, semula vihara ini dibangun di Pacinan Tinggi pada tahun 1774.detikTravel Community - Avalokitesvara, vihara tertua di Banten Lama yang sarat akan sejarah dan budaya. Dibangun pada abad ke-16. memiliki cerita yg unik di balik Avalokitesvara yang terletak di kawasan Banten lama. Kita bisa mengunjungi sekaligus dengan reruntuhan keraton dan masjid Agung Banten. Lokasinya tidak berjauhan, mudah dicapai dengan angkutan umum atau kendaraan Avalokitesvara terletak di wilayah kecamatan Kasemen, Banten Lama. Bangunan tampak kokoh dan megah, meski dibangun pada abad 16. Arsitektur vihara dengan ukiran khas tionghoa dan warna yg cerah menjadi ciri khas bangunan vihara pada pembangunan vihara ini tidak lepas dari kisah cinta Sunan Gunung Jati dengan seorang putri Cina bernama Ong Tien. Ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di Cina, sang putri terpikat kepadanya. Sehingga ketika kembali ke tanah air, putri Ong Tien kemudian Banten itu sang putri singgah, ia dikawal oleh banyak pasukan yang masih memegang teguh kepercayaannya. Karena itu Sunan Gunung Jati memerintahkan membangun vihara agar mereka bisa beribadah. Sedangkan sang putri, menjadi mualaf dan pindah ke kesultanan vihara ini memiliki nama lain yaitu Kelenteng Tri Darma. Karena sesungguhnya vihara ini melayani tiga kepercayaan sekaligus yaitu Kong Hu Cu, Taoisme dan Budha. Tetapi vihara ini juga terbuka untuk siapa saja. Kita pun dapat memasuki dan melihat-lihat sahabat traveler yg suka sejarah dan religi. Vihara Avalokitesvara bisa jadi destinasi yang pas saat berkunjung ke banten. Tapi tetap harus jaga kesopanan ya, pakaian yang rapih.
1 Wihara Avalokitesvara Wihara Avalokitesvara. (Indonesiakaya) Wihara tertua di Indonesia ini berada di Provinsi Banten. Wihara Avalokitesvara dibangun sejak abad ke 16. Tempat ibadah ini juga disebut dengan nama Kelenteng Tri Darma. Hal itu karena wihara ini melayani tiga kepercayaan umat sekaligus yaitu Kong Hu Cu, Taoisme dan Buddha.
Vihara Avalokitesvara ini terletak di jantung kota Pematang Siantar, dan sangat mudah sekali dijangkau karena letaknya yang sangat strategis. Vihara ini merupakan salah satu bangunan tempat ibadah terpopuler di Sumatera Utara, sebab Vihara yang sangat meg. Vihara Avalokitesvara ini terletak di jantung kota Pematang Siantar, dan sangat mudah sekali dijangkau karena letaknya yang sangat strategis. Vihara ini merupakan salah satu bangunan tempat ibadah terpopuler di Sumatera Utara, sebab Vihara yang sangat megah ini mempunyai eksotika yang luar biasa indahnya. Vihara Avalokitesvara yang terletak di kota Pematang Siantar ini tidak hanya populer di kalangan masyarakat kota Pematang Siantar saja, sebab Vihara yang berdiri pada tahun 2005 ini juga menarik perhatian para wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun wisatawan mancanegara, sehingga Vihara ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Buddha saja, tetapi juga menjadi lokasi wisata religi bagi para wisatawan. Di vihara ini ada sesuatu yang sangat menarik perhatian para pengunjung atau wisatawan saat berada di tempat ini, apakah yang menarik ditempat ini...??? Ya, Vihara Avalokitesvara ini mempunyai beberapa hal yang sangat menarik, salah satunya adalah patung Dewi Kwan Im yang tampak begitu megah menghiasi halaman Vihara. Patung Dewi Welas Asih Kwan Im yang didirikan di vihara avalokitesvara ini disebut pula avalokitesvara, serupa dengan nama vihara dimana patung ini dibangun. Nama Avalokitesvara mengandung arti, Aval berarti mendengar, Lokite artinya Dunia dan Svara berarti suara. Jadi, Avalokitesvara berarti Mendengar Suara Dunia. Patung ini merupakan patung tertinggi di Asia Tenggara dan masuk kedalam MURI Museum Rekor Indonesia. Disini pengunjung atau para wisatawan bisa berfoto di dekat patung2 yang tersebar di Vihara Avalokitesvara. Bagi penganut agama lain bisa melihat patung Bodhisatva. Patung Kwan Im di Siantar ini selesai dibangun dalam waktu 3 tahun dan diresmikan pada 15 November 2005. Patung setinggi 22,8 meter ini dipesan langsung dari RRC dan dibuat dari batu granit. Bagi pemeluk Buddha, Dewi Kwan Im adalah dewi kasih sayang yang selalu dipuja. Kwan Im atau Guan Yin dikenal sebagai Bodhisattva atau calon Buddha, yakni manusia yang hampir mencapai kesucian atau kesempurnaan. Posisi Kwan Im di Siantar ini bernama Kwan Im Pemegang Sutra atau kitab ajaran Buddha, posisi inilah yang juga merupakan satu dari 33 julukan Kwan Im. Patung Kwan Im ini dikelilingi catur mahadewa raja atau malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Di sekitar patung terdapat sebuah lonceng besar dan sebuah roda doa praying whell. Di halaman bawah, 33 patung Kwan Im ukuran kecil mengelilingi patung raksasa ini. Detail ukuran patung Avalokitesvara Bodhisatva Dewi Kwan In antara lain Lebar 8,4 meter , Tinggi 3,5 meter, Total ketinggian patung 22,8 meter, Spesifikasi data teknis rupang Arca Buddha Avalokitesvara seperti Teratai dengan Ketinggian teratai 3 meter dengan Jumlah daun teratai 108 lembar. Arca Buddha tinggi Rupang Buddha 19,8 meter dengan Jumlah Batu Granit 238 lembar dan Berat total batu granit 388 buah, Berat total batu coran 502 ton, Berat total besi 70 ton Ukuran keseluruhan Lebar 8,4 meter, tinggi total 22,8 meter dengan berat 1500 ton. Jadi, apabila anda berkunjung ke kota Pematang Siantar, sempatkanlah berkunjung ke Vihara Avalokitesvara ini. Sebab, para pengunjung tak hanya dapat melihat kemegahan Patung Dewi Kwan Im saja, tetapi pengunjung juga dapat mengetahui berbagai hal yang sangat menarik dari Vihara ini. sumber foto Cooming Soon
Selanjutnyaada Vihara Avalokitesvara Pematang Siantar. Vihara ini sudah sangat populer dan hits dikalangan para traveller disebabkan terdapat patung Dewi Kwam Im yn yang tinggi menjulang ke angkasa. Sejak tahun 2005 tepatnya pada tanggal 15 November, Vihara Avalokitesvara Pematang Siantar resmi dibuka untuk beribadah pemeluk agama Buddha juga
gambar Vihara Avalokitesvara Sejarah Singkat Vihara Avalokitesvara Banten – Vihara Avalokitesvara merupakan salah satu bangunan bersejarah di Indonesia, yang berlokasi di Jalan Tubagus Raya Banten, Kp. Pamarican, Desa Banten, Kec. Kasemen, Kota serang, Banten. Sejarah Singkat Vihara Avalokitesvara Banten, Fungsi dan KegunaannyaKegunaan Vihara Avalokitesvara Banten1. Pembangunan Vihara2. Sumur Cing Sen Sejarah Singkat Vihara Avalokitesvara Banten, Fungsi dan Kegunaannya Banyak hal menarik mengenai Vihara Banten ini, terutama karena ini merupakan Vihara tertua di Banten. Selain itu, bangunan bersejarah ini juga menjadi bukti sikap toleransi antara umat beragama di masa lalu. Baca Juga Sejarah Singkat Benteng speelwijkAdanya Vihara Avalokitesvara ini juga erat kaitannya dengan Sunan Kalijaga. Karena, beliau lah yang menginisiasi pembangunan Vihara ini. Mau tahu lebih lanjut? Berikut kami jelaskan lebih lanjut mengenai Vihara Avalokitesvara. gambar Vihara Avalokitesvara Vihara Avalokitesvara merupakan tempat ibadah yang unik karena melayani 3 kepercayaan sekaligus, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Karena alasan itu juga lah Vihara ini dikenal sebagai Klenteng Tri Dharma. Konsep Tri Dharma tersebut juga bisa dilihat dari pernak-pernik di dalam Vihara yang mencerminkan ketiga kepercayaan yang saya sebutkan di atas. Namun, Vihara tersebut juga sempat digunakan sebagai tempat perlindungan para warga saat terjadi bencana alam di masa lalu. Selain itu, sekarang Vihara ini telah menjadi salah satu destinasi wisata menarik yang harus coba kamu kunjungi. 1. Pembangunan Vihara bangunan Vihara Avalokitesvara Tahun berdiri Vihara ini adalah sekitar abad ke 16. Pada saat itu, Banten merupakan wilayah pelabuhan yang ramai pedagang. Banyak pedagang dari berbagai tempat singgah di Banten untuk melakukan transit sebelum berlayar ke wilayah lain di Nusantara. Salah satu rombongan pedagang yang berlabuh adalah para pedagang dari China. Rombongan ini dipimpin oleh Putri Ong Tien yang merupakan keturunan dari Kaisar Tiongkok dan saat itu hendak ke Surabaya. Namun, melihat Banten sangat ramai akan aktivitas Perdagangan, mereka memutuskan untuk singgah lebih lama. Setelah tinggal lama di Banten, Sang Putri pun Akhirnya berkenalan dengan Sunan Kalijaga, dan lambat laun akhirnya hubungan mereka semakin dekat. Sampai pada akhirnya Putri Ong Tien bersedia masuk Islam dan akhirnya menikah dengan Sunan Kalijaga. Baca juga Masa Kemunduran Kerajaan Banten Setelah itu, banyak pengikut Putri yang memutuskan untuk memeluk agama Islam juga, meskipun tidak sedikit yang masih memegang kepercayaan lamanya. Akhirnya, Sunan Kalijaga pun membangun Vihara di dekat masjid Agung, meskipun pada akhirnya di pindahkan ke kawasan Pamarican pada tahun 1774. 2. Sumur Cing Sen gambar sumur Cing Sen Salah satu hal yang menarik adalah adanya sumur di Vihara Banten, yang usianya sama dengan Vihara tersebut atau bisa jadi lebih tua. Sumur tersebut terletak di sebelah barat, dan kedalamannya mencapai 5 meter. Hal yang menarik dari sumur tersebut adalah airnya yang belum pernah kering sampai sekarang. Baca Juga Sejarah Singkat Keraton Surosowan Air dari sumur ini konon memiliki berbagai khasiat, seperti menyembuhkan penyakit, membuat awet muda, dan yang lainnya. Karena itulah, tidak sedikit orang yang mengunjungi sumur ini, baik untuk meminum airnya, membawa pulang airnya, dan yang lainnya. 3. Tempat berlindung dari bencana alam Vihara Avalokitesvara Selain digunakan sebagai tempat ibadah bagi 3 kepercayaan berbeda, Vihara Avalokitesvara juga pernah digunakan sebagai tempat berlindung dari bencana alam di masa lalu. Bencana alam tersebut merupakan meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883, yang juga mengakibatkan munculnya gelombang tsunami. Pada saat itu, banyak warga yang menggunakan Vihara tersebut sebagai tempat berlindung, dan akhirnya nyawa mereka terselamatkan. Bangunan yang megah, kokoh, serta luas tersebut merupakan tempat berlindung yang sempurna dari deburan awan panas pasca meletusnya gunung Krakatau. Baca Juga Sejarah Singkat Keraton KaibonDenganmodal bertanya kami bisa menemukan arah menuju ke Vihara Avalokitesvara, dengan belok kiri mengikuti alur sungai arah ke Pelabuhan Karangantu, belok kiri lagi di pertigaan dan akhirnya mengikuti jalan mengelilingi Benteng Speelwijk sebelum tiba di halaman kelenteng. Bangunan ini merupakan sebuah klenteng Tempat Ibadah Tri Dharma, yang melayani para pengikut tiga aliran kepercayaan, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme dan Buddha.Laporan Wartawan Kuswanto Ferdian PAMEKASAN - Vihara Avalokitesvara Pamekasan Madura merupakan salah satu situs peninggalan peradaban manusia masa lampau yang sangat menarik. Menurut Ketua Vihara Avalokitesvara, Kosala Mahinda, Vihara ini merupakan TITD Tempat Ibadah Tri Darma Kwan Im Kiong yang terletak di pantai Talang Siring Kampung atau Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Pamekasan Madura. "Bagi kalangan warga Tionghoa, Kelenteng Kwan Im Kiong sebutan lain untuk Vihara Avalokitesvara, mempunyai keunikan tersendiri," katanya, Selasa 5/2/2019. Selain itu Vihara Avalokitesvara merupakan Tempat ibadah umat Tri Darma terbesar di Madura, sejumlah warga Tionghoa mengaku tertarik karena Vihara Avalokitesvara mempunyai sejarah yang panjang. Ada semacam legenda atau cerita lisan yang telah berlangsung turun-temurun, yang menyatakan bahwa ini termasuk sisa-sisa peninggalan budaya jaman Majapahit. "Pada awal abad ke-14 terdapat sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo sebelah barat Pamekasan, yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Raja-raja Jamburingin yang masih keturunan Majapahit itu mempunyai rencana membangun candi untuk tempat beribadah, tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin, dan mendatangkan perlengkapannya lewat Pantai Talang Siring dari Kerajaan Majapahit," jelas Kosala. Dahulu Pantai Talang dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara karena karena pantainya yang landai dan bagus pemandangannya. Terlebih bagi armada Kerajaan Majapahit untuk menyuplai bahan-bahan keperluan keamanan ataupun spiritual di wilayah Pamekasan. Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah. Namun, setelah tiba di pelabuhan Talang, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang. "Penduduk pada waktu itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Akhirnya, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar pantai Talang," terangnya. Tempat Candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung, merupakan salah satu desa di Kecamatan Poppo yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal tidak jadi. Rencana pembangunan candi di Pantai Talang pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai pudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan yang sangat baik di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. "Akhirnya, patung-patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan orang, lenyap terbenam dalam tanah," ujarnya.
Sedangkanarkeolog UGM, Kusen pernah mendefinisikan vihara sebagai tempat tinggal atau tempat persinggahan dan tempat berkumpul mendiskusikan agama bagi para pendeta agama Buddha. "Dulu, utamanya vihara adalah tempat tinggal para biksu, untuk mereka berkegiatan sehari-hari mempelajari kitab suci. Di dalamnya ada bangunan khusus untuk melakukan
Pematangsiantar, sebuah daerah multibudaya yang ada di Indonesia, memiliki banyak destinasi religi dan sejarah tempo dulu. Antara lain adalah Vihara Avaloskitesvara dan Patung Dewi Kwan Im yang ekstra megah. Destinasi tersebut berada di pertemuan Jalan Jane dan Jalan Gn. Pusuk Buhit, berjarak 200 meter dari pusat kota Siantar Selatan. Dibandingkan dengan vihara yang terletak di Siantar. Tempat berdoa umat Buddha sekaligus objek wisata religi ini mempunyai keunikan sendiri, yakni Patung Dewi Kwan Im atau juga familiar dengan nama Dewi Guan Yin, sosok yang selalu dipuja oleh etnis Tionghoa karena welas asihnya. Patung Dewi Kwan Im adalah situs religi milik umat Budha Siantar yang menjadikan komplek peribadatan Vihara Avalokitesvara sangat indah dan sempurna. Tak mengherankan jika spot wisata ini tidak pernah sepi dari perhatian wisatawan. patung dewi kwan im siantar di vihara avalokitesvara - via sunandar pangeran sipayung/googlemap Sejak dibuka pertama kalinya untuk publik, terhitung ribuan orang sudah berkunjung ke Vihara Avaloskitesvara demi melihat wujud keindahan Patung Dewi Kwan Im Siantar yang merupakan ikon utama dari komplek ini. Travelingmedan sudah mengumpulkan 8 fakta mengenai keduanya Apa Saja Fakta yang Ada di Vihara Avaloskitesvara Siantar? 1. Jam Buka dan Tiket Masuk Soal jam operasional, komplek tempat wisata Vihara Avalokitesvara Siantar dibuka setiap hari senin hingga minggu. Mulai pukul 1000 WIB dan tutup pukul 1730 WIB. Namun, jam buka tersebut tidak berlaku jika vihara sedang digunakan oleh umat untuk beribadah atau tengah merayakan hari besar, Imlek dan Waisak misalnya. Siapa saja boleh masuk? Tanpa melihat latar belakang, pengelola mengizinkan setiap pengunjung untuk berjalan-jalan dan menikmati pesona komplek vihara yang dibuka secara gratis alias nggak pakai tiket masuk. Tetapi kita wajib banget jaga sikap selama berada di sini ya. 2. Patung Dewi Kwan Im Fakta menarik pertama dari patung Dewi Kwan Im adalah tingginya yang dua puluh dua meter 22,8 m menjadikan patung ini disnyalir sebagai Avalokiteśvara Statue tertinggi di wilayah Asia Tenggara. Dengan posisi tegak, kamu perlu mengadah ke langit untuk melihat bagian paling atas. Dewi Kwan Im yang diwujudkan dalam patung perempuan muda tersebut diberi warna putih dan abu-abu. Letaknya dibuat menghadap graha. Jika dari luar, patung yang dikerjakan lebih dari 2 tahun ini tampil sangat megah dan menawan. Jika sudah berada di pintu masuk, pengunjung perlu menaiki beberapa tangga sebab ada di lantai dua. Patung Dewi Kwan Im Siantar merupakan rupang bernilai fantastis karena seluruh material bangunan yang digunakan berasal dari negara tirai bambu, Tiongkok. patung dewi kwan im siantar dengan tinggi 22,8 m - 3. Sejarah Destinasi Asal-usul dibangunnya Vihara Avalokitesvara Siantar berkaitan dengan sejarahnya yang bermula dari tahun 2005. Sebagai daerah toleran yang diakui oleh Indonesia dan didukung pula dari sisi heterogen masyarakat sekitar, tidaklah terlalu sulit mengantongi izin pendirian bangunan apabila dibandingkan dengan negara lainnya di seputaran Asia Tenggara. Tambah lagi jika disusur melalui sejarah vihara-vihara di Siantar, di mana Avalokitesvara sendiri merupakan komplek vihara terbesar sehingga areanya yang terbilang luas sangat memungkinkankan untuk membangun Patung Dewi Kwan dengan lebar dengan lebar 8,4 meter dan dihiasi ukiran bunga teratai tersebut. Dalam perjalanannya, pengerjaan Bodhisatva Avalokitesvara berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Diawali dari peletakan batu pertama pada tahun 2002 hingga tuntas tahun 2005. Ya, tentu butuh waktu lama mengerjakan bangunan sedetail ini, apalagi patungnya yang seberat ton itu. image via eliza - 4. Terdiri dari 4 Area Laiknya vihara pada umumnya, pun Bodhisatva Avalokitesvara memiliki cakupan area yang fungsinya berbeda-beda. Namun secara garis besar, vihara di Siantar ini terdiri dari 4 komplek utama yakni Dhammasala, Kuthi, Uposathagara dan Bhavana Sabha. Karena sebagian area bersifat tertutup, maka tidak semua kawasan dapat dijelajahi pengunjung. Hanya area tertentu saja yang bisa dimasuki, meliputi ruang terbuka, taman kecil, patung utama dan patung shio yang dibuat berjajar di area tangga. Baca Juga 7 Air Terjun di Siantar dan Simalungun 5. Sabet Pengakuan dari MURI Bagi wisatawan, Patung Dewi Kwan Im Siantar menjadi alasan utama mengapa mereka sampai rela datang dari jauh, bahkan tak sedikit juga yang terbang dari luar kota demi bisa menengok langsung wujud rupang terbesar di Asia Tenggara yang penghargaannya diberikan oleh rekor MURI Indonesia. Sebenarnya ada banyak vihara di Siantar, sebut saja Maha Vihara Vidya Maitreya, Vihara Samiddha Bhagya, Whira aHock Tek Shu dan Kelenteng Sukong yang sama-sama indah. Tetapi Vihara Avalokitesvara mempunyai pesona tersendiri berkat gelar kebanggaan yang diperoleh dari Museum Rekor Indonesia. image via dora simatupang/fb 6. Spot Menarik Lainnya Vihara terluas di Siantar ini berdiri di atas lahan kurang lebih 1 hektar. Bukan hanya patung Dewi Welas Asih saja, pun di sekeliling lantai dua, berdiri beberapa situs religi. Diantaranya adalah catur mahadewa raja, roda dua dan terakhir lonceng berukuran raksasa. Konsep vihara-nya yang berwarna kelabu memang sangat berbeda dibandingkan vihara populer lainnya di Sumatera Utara. Kesan klasik kuno yang terpancar dari relief bangunan dan seisinya menyajikan keunikan sendiri. Kita seolah sedang berlibur di negara Tiongkok. Kalian bisa mengelilingi kawasan wisata di Siantar ini cukup dengan berjalan kaki saja. Nah, biasanya para pengunjung tak pernah melewatkan momen untuk berfoto. Kebanyakan wisatawan memilih latar dengan gambar Patung Dewi Kwan Im Siantar karena keindahannya yang memang memukau.DetikNews86Com - Siantar - Jelang Perayaan Imlek 2573 Tahun 2022, sejumlah rumah ibadah umat Budha di Siantar dibuka untuk kegiatan ibadah. Namun dilakukan pembatasan kunjungan, seperti yang terjadi di Vihara Avalokitesvara, Jalan Gunung Pusuk Buhut, Kelurahan Karo, Kecamatan Siantar Selatan. Pengurus Vihara, Chandra mengatakan perayaan Imlek di Vihara Avalokitesvara sudah dimulai pada 26
Gapura masuk ke Kompleks Ratu Boko, Yogyakarta. Masyarakat memahami vihara sebagai tempat ibadah pemeluk agama Buddha yang identik dengan klenteng. Tak banyak yang tahu kalau dulu vihara selain tempat ibadah juga tempat belajar, berkumpul, dan tinggal para biksu/biku. "Kini, vihara sering digunakan untuk menyebut kelenteng yang fungsi utamanya sebagai rumah ibadah Tridharma, di dalamnya ada pemujaan Konfusius, Buddha, dan Taoisme," kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi via aplikasi zoom tentang "Mengenal Vihara dan Pesantren sebagai Tempat Pembelajaran Agama dalam Perspektif Arkeologi" yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, Jumat, 8 Mei 2020. Agni menjelaskan pemahaman Buddha masa kini telah mengalami percampuran dengan kepercayaan Konghucu. Dalam konteks itu, vihara berfungsi sebagai pusat kegiatan agama dan kebudayaan. Kegiatan di dalam vihara adalah berdoa, bermeditasi, dan membaca parrita. Namun, pada masa Jawa Kuno, vihara punya arti berbeda. Bentuk Awal Vihara Tak mudah menggambarkan bentuk awal vihara pada masa Jawa Kuno karena tinggalannya hampir tidak ada. Hanya batur ganda di Kompleks Ratu Boko dan Candi Sari di Yogyakarta yang masih bisa diamati. Namun, relief Kharmawibhangga di kaki Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, memberikan petunjuk seperti apa tempat para biksu itu menuntut ilmu. Agni menunjukkan beberapa relief yang menggambarkan kompleks vihara dikelilingi pagar. Di dalamnya ada pendopo untuk berkumpul, kuil dengan konstruksi batu, dan tempat tinggal dengan konstruksi kayu. "Mungkin inilah mengapa tidak ditemukan sisanya sampai sekarang karena bahan kayu mudah lapuk," kata Agni. Baca juga Pendidikan Agama di Kadewaguruan Selain dari relief, keberadaan vihara bisa ditelurusi lewat prasasti. Ada 21 prasasti dari abad ke-8 sampai ke-11 yang menyebut kata vihāra, bihāra, dan wihāra. "Lokasi temuan prasasti yang paling barat dekat Pekalongan, paling timur di perbatasan Sidoarjo-Surabaya," kata Agni. Agni mendaftar 21 prasasti itu dalam "Vihara dan Pluralisme pada Masa Jawa Kuna Abad VIII-XI Masehi Tinjauan Data Prasasti" yang terbit dalam Berkala Arkeologi 2015, sebagai berikut Baca juga Tempat Pendidikan Buddha di Nusantara Abad ke-8 Prasasti Abhayagirivihāra menyebut Vihāra Abhayagiri dan Prasasti Kalasan menyebut Vihāra i Kalasa. Abad ke-9 Prasasti Kayumwungan menyebut kata vihāra; Prasasti Abhayananda 826 menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Kuti 840 menyebut Kuti; Prasasti Wayuku 854 menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Wihāra 874 menyebut wihāra; Prasasti Salimar IV 880 menyebut Wihāra i Kandang; Prasasti Kalirungan 883 menyebut Wihāra i Kalirungan; dan Prasasti Munggu Antan 887 menyebut Wihāra i Gusali. Abad ke-10 Prasasti Poh 905 menyebut Wihāra Waitanning Hawan; Prasasti Palepangan 906 menyebut Bihāra ing Pahai; Prasasti Sangsang 907 menyebut Wihāra i Hujung Galuh; Prasasti Wukajana menyebut Bihāra i Dalinan; Prasasti Guntur 907 menyebut Wihāra i Garung; Prasasti Wanua Tengah III 908 menyebut Bihāra i Pikatan; Prasasti Wutit menyebut Sang Hyang Wihāra; Prasasti Pling-Pling menyebut kata wihāra; Prasasti Wurudu Kidul A 922 menyebut Wihāra i Halaran; dan Prasasti Hara-Hara 966 menyebut Sang Hyang Kuti. Abad ke-11 Prasasti Kelagen 1037 menyebut sebuah wihāra. Sebelum abad ke-8 tidak ditemukan prasasti yang menyebut vihara. Ini mungkin bisa dikaitkan dengan peristiwa kepindahan Rakai Panangkaran dari penganut Hindu menjadi Buddha pada abad ke-8. "Tidak berarti sebelum kepindahan Rakai Panangkaran ke Buddhisme tidak ada penganut Buddhisme di dalam masyarakat Jawa Kuno," tulis Agni. Buktinya, kata Agni dalam Prasasti Wanua Tengah III disebutkan Vihāra i Pikatan yang didirikan Rahyangta i Hara. Ia adalah adik Rahyangta i Mḍang yang ada sebelum masa pemerintahan Rakai Panangkaran. "Ini bukti bahwa sebelum Rakai Panangkaran sudah ada penganut Buddhisme," tulis Agni. Fungsi Awal Agni menyimpulkan keberadaan vihara memuncak pada abad ke-10. Asumsinya, mungkin ketika itu jumlah biksu sangat banyak. "Dapat disimpulkan Buddhisme di Jawa Kuno mengalami puncak perkembangan pada abad ke-10," kata Agni. Itu berkaitan dengan fungsi vihara pada masanya. Agni menerangkan bahwa dalam Prasasti Kalasan, Abhayagirivihara, dan Kayumwungan, digambarkan vihara adalah pusat pemujaan dan penyebaran agama Buddha oleh para biksu yang terpelajar. Menurut Agni, berdasarkan Prasasti Kalasan pula arkeolog Soekmono menggambarkan vihara sebagai sebutan untuk keseluruhan gugusan bangunan yang terdiri dari kuil dan asramanya. Ahli Jawa Kuno, Zoetmulder mendeskripsikan vihara sebagai biara atau candi yang aslinya merupakan serambi tempat para pendeta berkumpul atau berjalan-jalan. Sedangkan arkeolog UGM, Kusen pernah mendefinisikan vihara sebagai tempat tinggal atau tempat persinggahan dan tempat berkumpul mendiskusikan agama bagi para pendeta agama Buddha. "Dulu, utamanya vihara adalah tempat tinggal para biksu, untuk mereka berkegiatan sehari-hari mempelajari kitab suci. Di dalamnya ada bangunan khusus untuk melakukan ritual agama," kata Agni. Menurut Agni, pendirian Vihāra i Kalasa dalam Prasasti Kalasan berkaitan dengan bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan di Yogyakarta. Pun dengan tempat tinggal bagi para biksu di dekatnya. "…Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para biksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli…," tulis prasasti itu. Agni menjelaskan, selama ini ada beberapa pendapat tentang bangunan vihara di dekat kuil Tara itu. Ada yang menyebut vihara itu adalah Candi Sari yang lokasinya tak sampai 1 km dari Candi Kalasan. "Salah satunya Bernet Kempers ahli purbakala Belanda, red.. Candi Sari kan bangunan bertingkat, lantai atas untuk biksu. Tetapi disadari juga oleh Kempers pada musim hujan akan sangat tidak nyaman tinggal di bangunan batu karena pasti akan lembab," jelas Agni. Karenanya, Agni sendiri cenderung setuju kalau ada kompleks vihara di dekat lokasi Candi Kalasan yang bisa menampung berbagai kegiatan. Kini lokasinya diperkirakan menjadi permukiman warga di sekitar Candi Kalasan. "Kalau kembali pada definisi vihara menurut Soekmono, Candi Kalasan itu kuil untuk ritualnya, lalu di dekatnya ada untuk tempat tinggalnya para biksu, red.," kata Agni. Nyatanya, fungsi vihara pada masa lampau tak melulu soal agama. Dalam Prasasti Wurudu Kidul A diperoleh informasi kalau vihara terlibat pula dalam proses penetapan hukum. Ia menjadi saksi yang akan meneguhkan keputusan hukum terhadap seseorang. Kenyataan kalau raja-raja pada masa Jawa Kuno menetapkan sima bagi pendirian vihara, menurut Agni, juga bisa menjadi petunjuk adanya tujuan lain dari pembangunannya. Pasalnya, raja-raja yang menetapkan status sima untuk vihara ini tak selalu berkeyakinan Buddha. Mereka adalah raja-raja yang beragama Hindu. Misalnya, Rakai Watukura Dyah Balitung 899–911, yang mengembalikan status sawah di Wanua Tengah sebagai sima vihara di Pikatan. Padahal, ia beragama Siwa. Ia menyandang gelar pentahbisan sebagai titisan Siwa. Alasannya bisa sebagai penghormatan bagi para penganut Buddha. Bisa juga karena alasan politis. "Seorang raja yang ingin menguasai wilayah besar, perlu mengambil simpati semua golongan," kata Agni. Dalam perkembangannya seiring datangnya pengaruh Islam, Agni melihat adanya kesinambungan tradisi pengajaran di vihara dengan yang ada di pesantren tradisional. Sedangkan pengaruh Tiongkok yang masuk ke Nusantara lama kelamaan juga ikut mengubah tradisi ritual di vihara. "Kita lihat kepercayaan Tridharma sangat kental pengaruh Tiongkok," kata Agni. "Itu kenapa bisa bergeser dari vihara ke klenteng."
KarenaPagoda Avalokitesvara berada di pinggir jalan raya dan langsung di depan Kodam IV Akses mudah ke Diponegoro, Watugong dan Bodhgaya Vihara. Kawasan ini sering disebut sebagai watugong karena lokasinya yang berada di daerah dengan batu-batuan yang bisa anda lihat di sekitarnya dengan bentuk yang menyerupai bentuk sebuah gong.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Saya berkunjung ke vihara Avalokitesvara setahun yang lalu. Saat itu saya sedang tugas belajar mengikuti pelatihan pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas pariwisata kabupaten Lebak, Vihara Avalokitesvara ini merupakan bangunan bersejarah karena merupakan vihara tertua dibanten didirikan sejak abad ke 16. Vihara ini berlokasi dikawasan banten lama tepatnya di jalan tubagus raya banten,Kampung pamarican,desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota serang, Banten. Vihara ini menjadi simbol warisan masa lalu bagaimana toleransi kerukunan antar umat beragama berjalan harmonis karena Vihara ini didirikan oleh Sunan gunung jati. Lalu bagaimanakah awal mulanya sunan gunung jati yang merupakan tokoh islam bisa mendirikan vihara ini, kenapa bisa terjadi? Awal mulanya banten merupakan pelabuhan dagang yang sangat terkenal pada masanya, ketika itu banyak para pedagang asing singgah ke banten untuk melakukan perdagangan atau transit menuju pelabuhan lainnya di wilayah nusantara. Salah satu yang datang ialah para pedagang cina, Rombongan pedagang cina dipimpin oleh putri Ong tien yang merupakan keturunanan kaisar tiongkok, awalnya ia hendak melakukan perjalanan dagang ke surabaya namun ditengah perjalanan ia singgah di Banten. Melihat Banten sangat ramai aktivitas perdagangannya ia memutuskan untuk tinggal lebih lebih lama seraya melakukan perdagangan karena Banten juga merupakan daerah yang kaya akan lada dan merica sebagai salah satu komoditas rempah-rempah yang saat itu dicari banyak orang. Lama tinggal di banten akhirnya Putri Ong tien berkenalan dengan Syarief Hidayatullah sunan gunung jati, lambat laun perkenalan mereka semakin dekat sehingga Sunan gunung jati menikahi Putri Ong tien yang saat itu sudah memeluk agama islam. Pengikut putri Ong tien yang berjumlah ribuan orang itu terbagi dalam dua kelompok, kelompok pertama beragama islam mengikuti putri Ong tien dan kelompok kedua masih memegang kepercayaan lamanya yaitu agama adanya kelompok kedua ini, akhirnya sunan gunung jati berinisiatif mendirikan vihara untuk para pengikut putri ong tien yang masih memeluk kepercayaan lamanya. Vihara ini didirikan dekat masjid agung tepatnya di desa dermayon kemudian pada tahun 1774 vihara ini dipindahkan ke kawasan pamarican dan hingga kini masih berdiri Vihara ini merupakan buktinya nyata bahwa nuansa toleransi umat beragama berjalan harmonis di banten, dimana antar para pemeluk agama berbeda bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Kerukunan umat antar agama benar-benar terjadi saat itu. Tak hanya itu keberadaan Vihara ini juga sangat dihormati oleh masyarakat Banten karena menurut catatan sejarah Vihara ini banyak memberikan kontribusi positif bagi masyarakat banten saat itu. Sebut saja ketika banten mengalami pandemi wabah penyakit perut vihara ini memainkan perananya yang apik dalam menanggulangi wabah yang terjadi, Vihara melakukan ritual mengarak patung dewi kwan im guna melakukan prosesi tolak bala, selain itu para tabib pun senantiasa berusaha mengobati masyarakat yang sakit sehingga upaya ini mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat, konon disebut penanganan wabah saat itu yang dilakukan oleh fihak vihara mengalahkan upaya penanganan wabah yang dilakukan oleh pemerintah hindia itu pada tahun 1883 saat gunung kratau meletus, Vihara avalokitesvara ini menjadi tempat pengungsian yang aman bagi warga yang terkena dampak meletusnya gunung krakatau. Bangunan yang megah,kokoh dan luas dari vihara ini melindungi warga yang mengungsi dari deburan awan panas pasca gunung krakatau saat ini bangunan vihara masih berdiri kokoh dan keaslianya masih terjaga. Vihara ini ditetapkan sebagai Bangunan cagar budaya dan juga tempat destinasi wisata religi dan budaya. Jika kita berkunjung ke Vihara ini kontan kita sedang terbawa menuju suasana negeri cina dimana semua pola arsitekturnya mirip negeri tirai bambu. 1 2 Lihat Sosbud Selengkapnya
detikTravelCommunity - Vihara Avalokitesvara merupakan salah satu vihara yang unik dan cukup dikenal di kabupaten Semarang. Uniknya, hanya beberapa meter dari tembok kompleks vihara ini, terdapat makam Ki Mandung, salah satu tokoh penyebar agama Islam pengikut Ki Ageng Pandanaran.Konon, vihara ini dulunya merupakan tempat pertapaan pendiri Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran.
Vihara Avalokitsvara - Patung Dewi Kwan Im Siantar - Ada banyak sekali objek wisata yang bisa didatangi di Sumatera Utara. Jika kebetulan ke Pematang Siantar akhir pekan ini, jangan lupa menengok patung Dewi Kwan Im yang megah dan anggun. Paket Wisata Danau Toba Open Trip Danau Toba Paket Wisata Danau Toba 1 Hari Paket Wisata Danau Toba 2 Hari 1 Malam Paket Wisata Danau Toba 3 Hari 2 Malam Paket Wisata Danau Toba 4 Hari 3 Malam Paket Wisata Danau Toba 5 Hari 4 Malam Sumatera Utara bukan hanya terkenal dengan wisata alamnya saja tetapi juga wisata religinya. Salah satu wisata religi yang cukup terkenal adalah objek Patung Dewi Kwan Im yang dibangun di area Vihara Avalokitesvara, Pematang Siantar. Patung ini menjadi istimewa karena berdiri tegak dengan tinggi mencapai 22,8 meter dengan material yang diimpor langsung dari Tiongkok. Vihara Avalokitsvara - Patung Dewi Kwan Im Siantar Patung ini selesai dibangun dalam jangka waktu hampir 3 tahun. Tepatnya diresmikan pada tanggal 15 November 2005 dan dinobatkan sebagai patung Dewi Kwan Im yang tertinggi di Asia Tenggara oleh MURI Museum Rekor Indonesia pada tahun 2008. Sebelum mencapai objek patung tersebut, terdapat bermacam-macam patung yang tentunya memiliki makna tersendiri. Antara lain, terdapat patung 12 shio yang berjejer rapi sesuai dengan urutannya. Yaitu dari tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing dan babi. Tepat di area pelatarannya terdapat taman yang dihiasi dengan patung dewa-dewa dalam agama Buddha dan juga terdapat kolam ikan di sana. Untuk naik ke pelataran Patung Dewi Kwan Im kita harus melalui jembatan yang cukup unik khas Tiongkok. Vihara Avalokitsvara - Patung Dewi Kwan Im Siantar Setelah naik beberapa anak tangga, sampailah ke tempat di mana patung itu berdiri. Ternyata sungguh megah. Tidak salah jika patung ini masuk rekor MURI, pikir saya. Di sisi sebelah kiri terdapat Roda Doa Wheel Prayer berukuran besar dan di sebelah kanan terdapat genta yang juga berukuran besar. Dari pelataran patung ini, kita bisa melihat pemandangan Pematang Siantar secara bebas tanpa terhalang oleh pohon-pohon atau tiang-tiang. Benar-benar tidak menyangka jika Kota Pematang Siantar memiliki objek wisata yang sudah terkenal bukan hanya di dalam negeri saja bahkan hingga mancanegara. Jadi, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan objek wisata negeri kita tercinta ini? sumberViharaAvalokitesvara merupakan lambang toleransi agama yang sangat kuat di Pusat Pemerintahan Kesultanan Banten. Pada saat itu, kemajuan dan kejayaan Kesultanan Banten mengundang para saudagar atau pedagang dari penjuru dunia, dari India, Arab, Cina dan Eropa tentunya. Sehingga pada saat itu berkembanglah perkampungan-perkampungan dari masing Vihara Avalokitesvara Harga Tiket Masuk Gratis. Jam Buka - Nomor Telepon -. Alamat / Lokasi Jl. Gn. Pusuk Buhit, Karo, Siantar Selatan, Pematang Siantar, Sumatera Utara, Indonesia, 21131. Vihara Avalokitesvara salah kompleks wihara yang berada di Siantar Sumatra Utara. Wihara ini memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan yang lainnya. Keunikan tersebut yaitu adanya sebuah patung Dewi Kwan In raksasa yang menjulang tinggi. Patung dewi ini memiliki tinggi 22,8 meter dan berwarna kelabu. Tidak hanya sebagai tempat beribadah bagi umat Buddha, wihara ini juga menjadi tempat wisata. Pengunjung bisa melihat-lihat beberapa bangunan dan berkeliling di ruang terbuka. Di sini bisa ditemukan patung 12 shio, penjaga patung Dewi Kwan In, dan sebuah taman. Kemudian di dekat area patung, terdapat wihara dengan arsitektur klasik kuno, sebuah lonceng raksasa serta roda doa. Harga Tiket Masuk Vihara Avalokitesvara Untuk masuk ke wihara tidak perlu mengeluarkan biaya tiket masuk. Hanya perlu menyiapkan biaya jika ingin membeli makanan. Lalu, jika membawa kendaraan pribadi ke sini, pengunjung tidak dikenakan biaya parkir. Harga Tiket Masuk dan Fasilitas Tiket masuk gratis Parkir gratis Baca TAMAN HEWAN Pematang Siantar Tiket & Koleksi Satwa Jam Buka Vihara Avalokitesvara Vihara Avalokitesvara terbuka untuk umum setiap hari dari pagi hingga sore. Jam Operasional Setiap hari Patung Dewi Kwan In yang Memesona Di Vihara Avalokitesvara Sumatra Utara, terdapat sebuah patung Dewi Kwan In setinggi 22,8 meter. Foto Google Map/Abdul Rahman Batubara SH Vihara Avalokitesvara adalah salah satu komplek wihara indah yang ada di Siantar. Keindahan tersebut semakin bertambah dengan berdirinya Patung Dewi Kwan In yang sedang berdiri di atas bunga Padma. Ukuran patung ini terbilang sangat tinggi dibandingkan dengan patung-patung dewa atau dewi lain yaitu setinggi 22,8 meter. Terbuat dari batu granit yang berasal dari RRC dan resmi berdiri pada tahun 2015. Selain sangat tinggi, patung ini juga memiliki berat ton. Dengan warnanya yang kelabu, kesan klasik dan kuno yang kuat timbul dari patung sang dewi. Pembangunan patung dewi cinta dan kasih sayang ini berlangsung selama 3 tahun. Di sekelilingnya terdapat patung lainnya yang merupakan penjaga dari dewi serta patung 12 shio. Lalu tak jauh dari patung terdapat 4 patung dewa dan masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda. Ekspresi tersebut yaitu marah, tegang, datar, serta bahagia. Kemudian di area bawah, berdiri patung Dewi Kwan In dalam bentuk yang kecil. Baca SIANTAR WATERPARK Tiket & Wahana Melihat Keindahan Vihara Avalokitesvara Vihara Avalokitesvara terdiri dari sebuah komplek vihara yang memiliki 4 bagian dengan bangunan yang memiliki arsitektur kuno klasik. Foto Google Map/Kuni Boy Vihara ini terdiri dari kompleks rumah peribadatan yang terbagi atas 4 bagian. Bagian-bagian tersebut yaitu Dhammasala, Kuthi, Uposathagara, dan Bhavana Sabha. Lalu, di sini juga terdapat sebuah lonceng serta roda doa yang letaknya tak jauh dari patung Dewi Kwan In. Selain itu terdapat sebuah taman lengkap dengan sungai kecil dan sebuah jembatan. Apabila berwisata ke sini, pengunjung harus menjaga tata krama serta jangan berbuat gaduh. Tidak semua bangunan bisa dimasuki oleh masyarakat umum. Karena beberapa area khusus sebagai tempat untuk beribadah bagi penganut Buddha. Tempat-tempat yang bisa dikunjungi misalnya area patung di dekat tangga, bangunan terbuka, dan taman. Dapat Penghargaan dari MURI Patung Dewi Kwan In yang berdiri di wihara ini salah satu bangunan tertinggi di Asia Tenggara. Dengan keunikannya tersebut membuat wihara ini terkenal dan mengantarkannya meraih penghargaan dari MURI. Hal itu membuat semakin banyak wisatawan dari Sumatra Utara maupun luar daerah berdatangan ke sini. Di Sumatra Utara sebenarnya banyak bangunan wihara yang sangat indah, misalnya Maha Vihara Samiddha Bhagya. Selain itu, ada pula wihara lainnya yaitu Whira Ahock Tek Shu dan Kelenteng Sukong. Namun, banyak wisatawan yang tetap datang ke Vihara Avalokitesvara karena rekor dari MURI. Banyak Area Berfoto Instagramable Salah satu tempat berfoto yang instagramable di Vihara avalokitesvara yaitu di salah satu patung 12 shio yang dibangun berjajar. Foto Google Map/Toni Hadi Wibowo Salah satu kegiatan wajib selama berkunjung ke sini yaitu berfoto di area wihara . Tempat yang sering menjadi lokasi berfoto yaitu Patung Dewi Kwan In yang besar dan tinggi menjulang. Agar patung dewi tersebut bisa seluruhnya masuk ke dalam frame, ambil foto dari agak jauh dengan angle dari bawah. Foto akan terlihat semakin indah ketika berpadu dengan warna langit yang biru dan cerah. Kemudian lokasi lainnya yang tak kalah apik yaitu di patung 12 shio yang berada di dekat tangga. Pengunjung bisa memilih patung shio yang sesuai dengan tanggal kelahiran dan berfoto bersama. Selain itu, di depan wihara dengan arsitekturnya yang klasik pengunjung bisa mendapatkan foto yang menawan. Lalu di area taman bisa mengambil foto di atas jembatan yang berdiri di atas sungai kecil. Tempat lain yang bagus menjadi sebagai objek berfoto yaitu di depan lonceng raksasa serta roda doa. Fasilitas di Vihara Avalokitesvara Fasilitas yang tersedia sudah cukup lengkap seperti toilet, objek berfoto, dan tempat untuk parkir kendaraan. Vihara Avalokitesvara berlokasi di Jalan Pusuk Buhit, Karo, Siantar Sel, Pematang Siantar, Sumatra Utara. Letak wihara ini berada di pusat Kota Pematang Siantar dan mudah ditemukan di Google Map. Jika berangkat dari Medan, pengunjung akan menempuh perjalanan sekitar 2 sampai 3 jam. Untuk bisa sampai ke sini, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum.ViharaAvalokitesvara ini terletak di jantung kota Pematang Siantar, dan sangat mudah sekali dijangkau karena letaknya yang sangat strategis. Vihara ini merupakan salah satu bangunan tempat ibadah terpopuler di Sumatera Utara, sebab Vihara yang sangat megah ini mempunyai eksotika yang luar biasa indahnya.Vihara Avalokitsvara - Patung Dewi Kwan Im 4Tempat Keagamaan • Monumen & PatungJan 2020 • KeluargaTempat yg cocok untuk liburan sejenak ,bisa melihat lihat patung sekalian berswa foto dgn bersih , cuma tidak ada tempat nya matahari langsung kita tempat ini tidak ada pungutan , parkir pun pada 1 Januari 2020Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2019vihara ini wajib dikunjungi jika berada di Siantar, karena terdapat Patung Dewi Kwan Im yang cukup tinggi dan megah. Sayangnya saat kunjungan saya ke sana bulan Agustus, vihara ini sedang direnovasi sehingga tidak dapat masuk ke dalamnya. Namun dari jauh sudah bisa terlihat kemegahannya, patung Dewi Kwan Im yang menjulang tinggi sudah terlihat menyolok mata dan bagus untuk dijadikan objek foto. Kontras sekali dengan warna biru langit yang menjadi latar belakangnya. Areal parkir juga cukup luas sehingga tidak ada kesulitan untuk mengunjunginyaDitulis pada 8 Agustus 2019Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2018 • BisnisPagoda vihara avalokitesvara cukup tinggi kurang lebig 45 meter. Disini anda juga dapat melakukan ritual Tjiam Shi yaitu ritual menggoyangkan bambu yang sudah dikasih tanda sampai terjatuhDitulis pada 14 Juni 2018Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2018ukuran patung yang besar dan tinggi membuat vihara ini ramai dikunjungi pengunjung , ada yang sekedar untuk berfoto ada juga yang sekalian saja tidak ada tempat berteduh sehingga sangat panas klo pergi di siang hariDitulis pada 12 Mei 2018Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap Siantar, Indonesia59 kontribusiMei 2018 • TemanTempatnya bagus, gak nyesal datang kesini, lokasi di tengah kota, buat yang suka foto2 saya sarankan pada 10 Mei 2018Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2018 • TemanHaiiii...klo uda berkunjung ke Vihara ini dijamin gak mau pulang karena selain dapat berfoto, mengabadikan momen tersebut kita juga disuguhi dengan angin sepoi-sepoi, sejuk terasa. Sebaiknya berkunjung pada sore hari agar tidak terlalu panasDitulis pada 31 Januari 2018Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2018 • KeluargaHari pertama saya menginjakkan kaki di kota pematang siantar. Dari makan pagi di Mie Pansit, perjalanan saya berlangsung di vihara ini..keadaan yang saya lihat masih banyak perbaikan untuk fasilitasDitulis pada 1 Januari 2018Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2017saat sore hari sangat sepi , bagi yang datang untuk tujuan berdoa bisa tercapai suasana tenang. lokasi tidak jauh dari kota. dalam perjalanan menuju parapat dari kota pematang siantarDitulis pada 24 Desember 2017Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2017 • KeluargaPerfect place buat foto2..tempatnya sepi dan luas..patungnya besar sekaliSekedar informasi jika berniat berkunjung sebaiknya sbelum jam 5 sore,setelah itu vihara ditutup untuk yg pas dipagi hari atau sore,karena jika siang mataharinya benar2 menyengatDitulis pada 20 Mei 2017Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 2017 • KeluargaVihara Avalokitesvara merupakan vihara yang terbaik di Pematang Siantar. Selain sebagai tempat ibadah, vihara ini sering dijadikan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat lokal hingga ini akan sangat ramai pada saat hari besar umat Buddha atau hari besar etnis pada 3 Februari 2017Ulasan ini adalah opini subjektif dari anggota Tripadvisor, bukan dari Tripadvisor LLC. Tripadvisor melakukan pemeriksaan terhadap 1-10 dari 49 hasilAda informasi yang tidak lengkap atau tidak akurat?Beri saran perbaikan untuk menyempurnakan tampilan daftar ini
Է ጊо
Մ уф окα ոረ
Иηαጯаса ዞиնጁվըкоσ
Οψեсጁ նетр ևቄоη
ኜኸс ዕς ጽωջ йоζоվιβа
Рс лիπυኑεηθ
Пуглогл ирիпсፌኦину яնоտе а
Щиктናրев ቫаጤι аሐуպу
Щի сιтևцθф рошω
8 Vihara Avalokitesvara. Di sini kamu bakal bisa menemukan patung Dewi Kwan Im yang merupakan patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia, dan salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara. Wisata kota Pematangsiantar ini, terletak di Jalan Pane, tepatnya di wilayah kompleks peribadatan Vihata Avalokitessvara.Lokasi Jalan Teja Pamekasan, Montok, Larangan, Kecamatan Polagan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur 69382 Indonesia MAP KlikDisini HTM Free Buka/Tutup Setiap hari WIB Telepon 0324 326426 foto by Madura tidak hanya memiliki pesona alam yang luar biasa, tapi juga aset budaya yang dapat menambah pengetahuan kita. Berlibur tidak melulu ke pantai, pegunungan atau wahana bermain, tapi kita juga bisa berkunjung ke vihara bodhisattva lama ini atau vipassana graha. Anda bisa berkunjung ke vihara lain di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Surabaya, Semarang, Serang, Bandung, Medan, Sumatera Utara, Bogor, Banten, Lombok, Mataram, Pangkalpinang, Tangerang, Tasikmalaya, Sukabumi, Jambi, Jatinegara, Tanjungpinang, Ungaran, Daan Mogot dan Pematang. Sejarah Vihara Avalokitesvara foto by Madura memiliki tiga kelenteng dan Vihara Avalokitesvara adalah salah satunya. Dahulu, vihara ini merupakan suatu bangunan bercungkup dengan atap daun kelapa yang berdiri sekitar tahun 1900-an. Awalnya, bangunan ini berfungsi untuk menyimpan patung-patung dari Majapahit. Pada tahun 1400 M, keraton Jamburingin berniat untuk membuat candi sebagai tempat berubadah. Saat itu, Majapahit adalah penguasa wilayah Jamburingin sehingga membantu pembangunan candi dengan memberikan arca atau patung pemujaan ke Pamekasan. foto by Patung tersebut dikirim menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Talang berjarak sekitar 35 km dari Jamburingin. Sayangnya, pengiriman ini gagal dilakukan karena angkutan rusak. Hal ini membuat penguasa kraton Jamburingin membangun candi di kawasan pelabuhan Talang. Agama juga mulai tersebar di Pamekasan dalam waktu bersamaan. Sambutan baik diberikan oleh masyarakat sekitar, akhirnya pembangunan candi pun tak terlaksana juga. Patung-patung yang sempat dikirimkan kemudian terbengkalai begitu saja, akhirnya hilang tertimbun tanah. Setelah itu pada awal tahun 1800-an, tidak sengaja patung-patung tersebut ditemukan oleh petani ketika sedang menggarap lahannya. Kemudian Bupati Pamekasan ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memindahkan patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. foto by Namun, upaya tersebut gagal lagi dan belum diketahui alasannya. Akhirnya, patung tersebut masih berada di tempat yang semula. Sekitar tahun 1900, sebuah keluarga keturunan Tionghoa membeli tanah di mana patung-patung itu tersimpan. Setelah dilakukan bersih-bersih, baru diketahui bahwa terdapat patung-patung Budha versi Majapahit dengan aliran Mahayana yang dianut oleh banyak masyarakat di dataran Cina. Setelah itu, patung-patung tersebut dikumpulkan di sebuah bangunan bercungkup yang sekarang dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara. Ketahui juga cerita mengenai cabe, tragedi terbakar, dewi, dadap, bintan, gunung, kalong, tamansari, tebing, ratu, enim, sampit, dan Pamekasan city. foto by Terdapat salah satu patung dengan ukuran besar yang ternyata adalah patung Avalokitesvara Bodhisatva atau yang bernama Kwan Im Po Sat dalam versi Majapahit. Ukuran patung ini adalah 155 cm, tebal bawah 59 cm dan tebal tengah 36 cm. Daya Tarik Vihara Avalokitesvara Tempat wisata yang satu ini berbeda dengan tempat wisata lain di Madura. Selain uniknya bangunan vihara, tempat ini juga memperlihatkan toleransi yang begitu tinggi terhadap mereka yang berbeda agama. Inilah tempat wisata di sunter, taman sari. foto by Seperti yang diketahui jika vihara merupakan tempat ibadah umat budha, tapi karena berguna sebagai tempat wisata, vihara ini tidak segan untuk membangun mushola di kawasan ini. Tempat wisata lain di kota Siantar juga dapat dikunjungi, seperti pasar mangga dua, Tanjung Pinang. Mushola tersebut memiliki ukuran 4×4 meter yang terlihat seperti masjid Demak atau masjid pada umumnya di Jawa. Mushola ini terlihat mencolok dengan dinding berwarna hijau tua. Anda bisa menemukan mushola dengan mudah karena berada di depan vihara. Meskipun tidak begitu besar, mushola ini cukup nyaman digunakan sebagai tempat beribadah. Terdapat tempat wudhu, mukenah, sajadah dan fasilitas lain untuk beribadah. Bagi Anda yang ingin menunaikan sholat, cukup berjalan sekitar 10 meter dari vihara, jadi tidak begitu jauh. foto by Pemandangan khas budaya Budha pasti akan terasa begitu ketara ketika kita masuk ke dalam kawasan ini. Patung yang berukuran cukup besar akan menyapa kita. Bangunan dan desain interior di dalam bangunan ini sungguh mengesankan. Ada juga pondok atau griya di sekitarnya. Kita akan dibuat takjub dengan kebudayaan Budha yang terlihat jelas. Liburan kali ini akan membuat pengetahuan kita bertambah, terlebih dalam hal situs budaya. Anda akan mengetahui budaya dan sejarah terbangunnya vihara, jadi tidak sekedar berlibur saja. Jangan lupa abadikan dengan foto. foto by Satu hal yang seharusnya tertanam setelah berkunjung ke tempat ini adalah tolerani yang bertambah. Tidak seharusnya kita saling bermusuhan hanya karena perbedaan. Justru karena perbedaan inilah yang membuat dunia berwarna, jadi tinggal bagaimana kita bertoleransi. Fasilitas di Vihara Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah saja, melainkan juga tempat wisata sehingga harus disediakan fasilitas-fasilitas yang membuat nyaman para pengunjung. Tidak hanya wisatawan lokal, melainkan juga mancanegara yang tertarik untuk berkunjung ke tempat ini. foto by Fasilitas yang bisa Anda nikmati dari vihara ini adalah toilet atau kamar mandi. Kebersihan dari fasilitas ini begitu terjaga dengan baik jadi Anda akan merasa nyaman. Fasilitas nyaman juga disediakan di tempat wisata dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti Kebon Raya. Mushola juga dapat Anda temukan, meskipun terletak di kawasan vihara. Jadi, ketika tiba waktunya sholat, Anda tidak perlu berjalan ke luar kawasan untuk menemukan tempat beribadah. Anda tinggal berjalan sekitar 10 meter untuk sampai ke muhola dan menunaikan ibadah shalat. Kegiatan di Vihara foto by Tempat wisata yang sekaligus tempat beribadah umat Budha ini ternyata masih digunakan sebagai tempat peribadatan. Jadi, bagi Anda yang beragama Budha dapat beribadah di tempat ini dengan memanjatkan doa-doa sesuai dengan kepercayaan. Jika Anda ingin berlibur, Anda dapat menyusuri vihara dari berbagai sudut. Kita akan mengetahui beberapa budaya Budha dan kerajaan Majapahit sehingga pengetahuan kita akan bertambah.
ጋըдопоኦ илուփа гιրериሮэ
Всаሥէրըሖа аሶеգεмыտի ክоփυνамዞ
Хр йаζաтвኤ и
Ռθւፄνиውιж ኪурቾսа
Оդонυδመнту гаρሓдруфуኹ
Доդιп иτеթεкጀլ
Αናичθри аዩቤብю
Եφуςիбе ህεքу
Аφαхиኧатве ቶφαпከ ոч
ԵՒզ ማδеνеմስ էвቨκиπι
Дикамըճዴη ራኦеψኩደиցխ
Իሸеշሖνሓхуз τըሧепра
Иսεрюዤачωለ θη ንሕնоснидеγ
Ιгоժ θ
Выклኖ ы ሽጣէб
Уգቫжυժሴсви ካо
Щυհիнюлафи χе л
Туጨሣγо θ е
Tempatwisata di Siantar ini sangat ramai di malam hari, pengunjungnya juga cukup banyak. Makanan yang disajikan jangan ditanya deh, sangat beragam. 3. Museum Simalungun. museum simalungun. Wisata Siantar lainnya yang wajib dikunjungi adalah Museum Simalungun yang punya sisi sejarah.
Laporan Wartawan Tribun Medan, Silfa Humairah - Vihara Avalokitesvara yang berlokasi di Jalan Pusuk Buhit, Karo, Siantar Sel, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara, terbuka untuk umum dan menjadi destinasi wisata. Pasalnya, keindahan lokasinya dan ketinggian patung Dewi Kwan Im yang mencapai 22,8 meter. Vihara ini ramai dikunjungi pada sore hari dan tutup pada pukul WIB. Lokasi Patung Dewi Kwan Im yang terdapat di halaman vihara menarik perhatian. Patung ini merupakan patung tertinggi di Asia Tenggara dan masuk dalam Museum Rekor Indonesia MURI. Patung Kwan Im di Siantar ini selesai dibangun dalam waktu tiga tahun dan diresmikan pada 15 November 2005. Patung setinggi 22,8 meter ini dipesan langsung dari RRC dan dibuat dari batu granit. Keterangan mengenai patung ada di papan keterangan yang ada di pintu masuk. Patung Kwan Im ini juga dikelilingi catur mahadewa raja atau malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Di sekitar patung terdapat sebuah lonceng besar dan sebuah roda doa praying whell. Di halaman bawah, 33 patung Kwan Im ukuran kecil mengelilingi patung raksasa ini. Patung Avalokitesvara Bodhisatva Dewi Kwan In berukuran lebar 8,4 meter, tinggi 3,5 meter, dan total ketinggian patung 22,8 meter. Apabila traveler berkunjung ke Kota Pematang Siantar, berkunjunglah juga ke Vihara Avalokitesvara. Arsad, pengunjung asal Medan bilang, menyambangi Vihara Avalokitesvara karena direkomendasikan temannya yang tinggal di Pematangsiantar. "Jadi kata teman vihara ini terbuka untuk umum. Tempatnya keren dan cocok untuk hunting foto," katanya.