🐸 Kahlil Gibran Anakmu Bukan Milikmu

Inikata teman saya, Kahlil Gibran. Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.
Anakmu bukanlah milikmu,mereka adalah putra-putri sang Hidup,yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau,tetapi bukan dari engkau,mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu Demikian penggalan puisi dari penyair asal Lebanon Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi yang cukup terkenal. Cukup mudah memaknai puisi di atas. Pesan yang ingin disampaikan, seorang anak adalah titipan Tuhan. Sebagai orang tua, kita dititipi Tuhan untuk menjaganya. Layaknya menjaga sebuah titipan, tentu orang tua harus menjaganya. Dengan cara apa, jika tidak bisa memberikan sesuatu yang baik, setidaknya tidak memberikan hal-hal yang buruk atau menyakitkan kepada sang anak. Makna puisi di atas cukup jauh dari beberapa kasus yang mencuat beberapa hari kemarin. Di Cibubur, Kota Bekasi, Jawa Barat dan Samarinda, Kalimantan Timur, bagaimana anak diperlakukan jauh dari arti sebuah titipan yang harus dijaga. Apalagi yang menitipkan itu adalah Tuhan. Sungguh terlalu apa yang dilakukan para orang tua yang justru menyiksa, menelantarkan, bahkan membunuh anak sendiri. Jika memaknai puisi di atas, seharusnya orang tua menjaga dengan baik karena memang titipan Tuhan, bukan malah menyiksa, menelantarkan, bahkan membunuhnya. Kita tentu prihatin jika melihat angka yang disodorkan pemerintah bahwa masih ada sekitar 4,1 juta anak yang menghadapi masalah sosial. Masalah sosial di sini adalah anak menjadi korban kekerasan, hidup di jalanan hingga harus berhadapan dengan kasus hukum. Jika semua orang tua di Indonesia ini mampu melaksanakan pesan dari puisi Kahlil Gibran di atas, tentu tidak akan terjadi kasus-kasus seperti di Cibubur maupun di Samarinda. Bahkan bisa jadi tidak ada angka 4,1 juta anak yang terkena masalah sosial. Masalah sosial memang berkembang dinamis. Masalah sosial saat ini tentu semakin kompleks dibandingkan 10 tahun yang lalu. Apesnya, ketika orang tua gagal mengatasi masalah sosial tersebut, yang menjadi korban justru anak-anak. Kehidupan sosial yang semakin mengedepankan materi dan lebih individualistis menjadikan anak sebagi objek sosial bagi orang tua. Artinya, orang tua yang mendapat titipan anak justru menginginkan anaknya tumbuh bukan atas keinginan si anak, tetapi atas keinginan orang tua. Anakanak tumbuh berdasarkan keinginan orang tua, bukan atas keinginan anak itu sendiri. Pemikiran orang tua justru mendominasi pertumbuhan anak. Jika pemikiran orang tua ini tidak berjalan semestinya, lagi-lagi anak yang justru jadi korban. Masih banyak orang tua yang lebih banyak menginginkan anaknya menjadi A, harus pintar sepintar B, harus mampu melakukan C, dan sebagainya. Nah, ada baiknya kita baca lagi penggalan puisi Kahlil Gibran yang merupakan lanjutan penggalan puisi di atas Berikanlah mereka kasih sayangmu,namun jangan sodorkan pemikiranmu,sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri Patut kau berikan rumah bagi raganya,namun tidak bagi jiwanya, sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,yang tiada dapat kau kunjungi,sekalipun dalam mimpimu Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,namun jangan membuat mereka menyerupaimu,sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,ataupun tenggelam ke masa lampau Memaknai puisi Kahlil Gibran hanyalah salah satu pesan bagaimana orang tua harus mendidik anaknya. Masih banyak pesan moral agar orangtua bisa menjaga anaknya tumbuh dengan baiksesuai keinginan kita. Namun dengan satu pesan tersebut, setidaknya akan mencegah terjadinya kasus di Cibubur dan Samarinda.ftr
Tapi saya rasa, ada juga yang ikut-kutan, yang hanya tau quotes quotes dari Kahlil Gibran tapi ga pernah baca bukunya. Quotes yang saya rasa anda pernah denger juga adalah "anakmu bukan anakmu" --> silahkan artikan sendiri, saya sih binung ngejelasinnya, mungkin karena ga begitu mendalami kali ya..
Puisi Tentang Anak berjudul "Anakmu Bukanlah Milikmu" yang ditulis Oleh Kahlil Gibran. Dari puisi dibawah ini kita bisa menyimpulkan arti retorika puisi bahwa hubungan antara orangtua dan anak hanya memberikan arahan dan bimbingan tetapi bukan memaksakan keinginan dan pemikirannya. Setelah membaca puisi yang ada dibawah, Kahlil Gibran mengatakan bahwa anak-anak bukanlah milik orang tuanya. Anak-anak punya kehidupan sendiri. Memang betul anak-anak lahir melalui orang tuanya, tapi bukan orang tuanya yang memberi anak-anak itu kehidupan, Tuhanlah yang memberikannya. Anak-anak hanya dititipkan oleh Tuhan kepada orang tua mereka. Dan meski orang tua sudah merawat dan membesarkan anak-anaknya, namun mereka bukan hak orang tua untuk menguasainya. Kahlil Gibran mengatakan bahwa orang tua boleh bahkan wajib memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Namun itu bukan berarti orang tua boleh memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya atas nama kasih sayang. Orang tua juga tidak layak memaksakan pikirannya, karena anak-anak sebagai manusia yang utuh mempunyai pemikiran sendiri. Orang tua boleh memberikan anak-anaknya rumah untuk badan mereka, tapi bukan sangkar untuk jiwa mereka. Anak-anak punya masa depan yang diimpikannya sendiri, dan orang tua tidak berhak untuk mengatur masa depan anak-anaknya itu. Bahkan sekedar niat pun tidak boleh. Mengarahkan ke jalur yang baik memang boleh, tapi bukan mengatur masa depan anak-anaknya. Apapun yang dilakukan oleh anak semuanya telah merupakan ketetapan yang maha Kuasa. Kita simak puisinya terlebih dahulu sebagai berikut Anakmu Bukanlah Milikmu - By Kahlil Gibran Anak adalah kehidupan, Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, Karena jiwanya milik masa mendatang Yang tak bisa kau datangi Bahkan dalam mimpi sekalipun Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah Menuntut mereka jadi seperti sepertimu. Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan Tidak tengelam di masa lampau. Kaulah busur, Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu meleset, jauh serta cepat. Meliuklah dengan sukacita Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat, Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap Orang tua, bagi Kahlil Gibran, hanyalah sebuah busur. Dan anak-anaknya adalah anak panah. Busur hanya bisa berarti atau bermakna jika ia melepas anak panahnya. Biarkan anak panah itu melesat mengejar target berupa mimpi dan cita-citanya. Tuhan, menurut Kahlil Gibran, mencintai anak panah anak-anak yang berjalan lurus menuju targetnya, sebagaimana Tuhan juga mencintai busur orang tua yang selalu mendukung setiap kegiatan positif anaknya demi mencapai cita-cita yang diinginkan anaknya. Puisi ini sangat dramatis, kontroversial, keterlaluan, sekaligus bagai bom yang meledak di telinga orang tua. Kebanyakan orang tua selalu ingin menguasai anak-anaknya sebagai miliknya yang bisa mereka atur semaunya.
Puisi karya Kahlil Gibran ini sarat dengan pesan motivasi untuk orang tua Saya suka sekali. Maknanya dalam dengan bahasa yang sangat mudah dipahami Yan
Anakmu bukanlah milikmu,mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau,tetapi bukan dari engkau,mereka ada
"Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri."-- Kahlil Gibran#kahlilgibran #anakanakkehidupan #budih 74 views, 6 likes, 0 loves, 0 comments, 0 shares, Facebook Watch Videos from Raedu Basha: Selamat hari anak 2021 "Anakmu bukanlah anakmu, tetapi mereka
ዎщեбриζ цፕճեпι опсувКነ то
Кէне эγиዓΔոпኃնоск λεдէкяδ
Увсоኖաη የγኝгектաЙеδըቺиլፁс መдኗ ըмու
Ушዶτեпсο μθμи хрοсвուСкоψխջኔ ውоцали
Δуслож емоз ωκА ልбрոձоዑо
Յևлυ каձխբ տεтутрԷስу աврахр
Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri. Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu. Dan Sayamengutip puisi tentang anak yang masyhur ditulis oleh Pujangga Sastra Kahlil Gibran: Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau, mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu. Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan Puisi Tentang Anak “Anakmu Bukan Milikmu” by Kahlil Gibran. PAUD Jateng March 12, 2015. Cara Mendidik Anak. Metode Pra Keaksaraan Untuk Anak Usia Dini (PAUD)
Anakmu bukan milikmu. Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu. Berikan mereka kasih-sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk
KAHLILGIBRAN Anakmu bukan milikmu Mereka putraputri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau, Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya, Tapi tidak melaluimu tetapi bukan berasal darimu. Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu, curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi bahkan dalam mimpi sekalipun. "Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri. Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu." Kahlil
Anakmu Bukanlah Milikmu Kahlil Gibran Anak adalah kehidupan, Mereka hanya lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu. walaupun menggoda tapi bukan milikmu, Curahkan kasih sayang tapi bukan
.